Sabtu, 10 Agustus 2013

Meningkatkan kesadaran bertransportasi umum

Di jakarta, potensi kemacetan sudah terjadi dimana-mana, bahkan ada yang bilang, keluar rumah pun sudah macet. Ini terjadi karena ketidakseimbangan luas jalan dengan angka penambahan jumlah mobil yang ada. Tidak hanya di Jakarta, kemacetan juga sering terjadi di kota-kota pendukung Jakarta dan kota-kota besar lain. Faktanya, hampir di setiap rumah memiliki kendaraan pribadi, entah itu roda dua ataupun roda empat. Bagaimanapun juga, jumlah yang ada saat ini akan terus bertambah dikarenakan beberapa hal, seperti mahalnya harga BBM dan murahnya DP harga kendaraan (bahkan persyaratannya pun dimudahkan). Dimana ini membuat masyarakat berbondong-bondong untuk membeli kendaraan pribadi. Apalagi mengingat waktu yang ditempuh jauh lebih singkat ketimbang harus naik kendaraan umum. Inilah mungkin salah satu alasan kenapa masyarakat lebih baik naik kendaraan pribadi. Bagaimanapun juga, ini membuat pembengkakan pertumbuhan jumlah pemilik dan pengguna kendaraan pribadi. Di sisi lain pertumbuhan luas jalan yang hanya sekitar 0,01 persen, tidak berimbang dengan pertumbuhan jumlah kendaraan yang mencapai 9 persen. Jika ini tidak dapat dihentikan maka para pakar memprediksi 2014 Jakarta akan mengalami macet total. Apa solusinya? Pemerintah kota Jakarta sudah banyak menelurkan gagasan yang sampai ini pun masih belum efektif dan efisien dalam mengatasi kemacetan, misalnya 3 in 1, transjakarta, dan hingga yang terbaru adalah rencana pembuatan MRT (Mass Rail Transport) dan spesifikasi nopol. Dilihat dari sisi pelayanan kepada masyarakat, transjakarta dan MRT ini saya rasa yang paling masuk akal dalam segi mengurangi jumlah kendaraan yang lalu lalang di ibukota. Tinggal bagaimana menarik minat masyarakatnya, konsistensi praktek, serta perawatannya. Memang ini menjadi persoalan kompleks dan menjadi dilema bagi masyarakat di negeri ini, disamping macet, banyaknya jumlah kendaraan yang ada berdampak pada jumlah ketersediaan BBM salah satunya. Menurut Kadishub DKI Udar Pristono, dari BBM bersubsidi tersebut ada sebanyak 60 persen yang memakai premium, solar 34 persen, dan minyak tanah empat persen. Untuk penggunaan bahan bakar premium, mobil pribadi yang menggunakan sebanyak 53 persen, motor 40 persen, mobil barang empat persen, dan angkutan umum sebanyak tiga persen. Cukup memprihatinkan, dimana sebagian besar dari masyarakat menikmati BBM 'hanya' untuk dirinya sendiri, bayangkan jika mereka mau menikmatinya bersama, berapa banyak minyak yang bisa dihemat? Berapa efektivitas dan efisiensinya. Disamping itu pula pengurangan jumlah kendaraan akan banyak melowongkan jalanan ibukota. Dalam konteks inipun, masalah pada moda transportasi umum juga harus banyak diminimalisir, bahkan dihilangkan. Tidak bisa dipungkiri, bahwa beberapa orang memang tidak terlalu nyaman dan aman bila harus naik kendaraan umum. Lihat saja, bagaimana persentasenya antara mobil pribadi, motor dengan angkutan umum (premium) 53:40:3, diasumsikan bagaimanapun juga, dilihat dari segi perekayasaan-pun, akan terjadi yang namanya "collapes" ibaratnya sudah dislokasi titik, harus dislokasi ruang pula, harusnya dengan 3 persen tadi pemerintah mampu membangun sebuah "value engineering" (teknik pengganti/substitusi material, dalam konteks ini, kendaraan diibaratkan sebagai material) untuk yang 93 persen tadi, agar terjadi peng-efisiensian dari penggunaan kendaraan bermotor Beberapa keuntungan bila naik kendaraan umum: - mengurangi stres akibat macet (karena kita hanya duduk) - bersedekah (naik angkot sama artinya memberi makan orang lain lho) Poin diatas hanya untuk diri kita sendiri, mungkin hanya 2, tapi bagaimana dampaknya jika kita bersama mau mengeksekusinya??? Apa yang akan terjadi?? (Penulis mengambil contoh dikondisikan 100 orang dan minggu efektif dalam 1 tahun = 40 minggu) 1. Menghemat APBN Coba deh, misal subsidi untuk BBM sebesar 3000 rupiah/liter. Misal kita menggunakan motor pribadi, butuh sekitar 1,5 liter perminggu, berarti 4500 rupiah subsidi untuk kita, dan pertahun sekitar 18000 dan jika ada 100 orang, maka 1,800,000 menjadi rupiah hanya untuk BBM per-100 manusia di suatu wilayah dan masih tanpa kendaraan roda 4. Belum situasi aslinya, ini baru rekayasa lho, belum kalo saya menghitung di setiap kota besar yang lain. Berapa APBN yang harus dikeluarkan. Bayangkan jika 1,8 juta rupiah ini digunakan untuk memberi makan saudara-saudara kita, ataupun membantu muslim di Gaza, atau untuk pembangunan di daerah pedalaman, berarti secara tidak langsung kita bersedekah dengan tidak menaiki kendaraan pribadi, so, use or charter it? It's your choise brooo 2.efisiensi penggunaan bahan bakar Karena suatu saat BBM didunia akan menjadi gas karbon di- dan mon-oksida, sudah pemanasan global? Bikin minyak bumi cepat habis?? Dan masih banyak lagi-lah. Biar contoh yang berbicara, setiap minggu kita butuh 1,5 liter misalnya, bagaimana jika setahun?? Misal minggu efektif kita hanya 40 minggu, berarti konsumsi kita sekitar 60 liter, bayangkan jika 100 orang yang sama, berarti ada sekitar 6 kLiter yang sudah terpakai. 6kLiter ini jika dimanfaatkan untuk kendaraan umum, sudah berapa ratus jiwa yang terangkut??? Oke, tidak adil jika saya hanya membully yang naik transportasi pribadi, saya akan coba implementasikan rumus diatas pada kendaraan umum, check this out, misal sebuah angkutan kota, membutuhkan 50 liter perhari, berarti seminggu membutuhkan 350 liter, setahun butuh 17500 liter, baru jumlah BBM-nya. Misal dalam sehari supir angkutan umum membawa rata-rata 10 orang per PP. Bila dalam sehari bisa mencapai 6 kali PP, dengan asumsi setiap penumpang kita anggap 2x naik, berarti ada sekitar 30 orang sehari. Berarti ada sekitar penghematan sekitar 17,5 kLiter. 3. Mengurangi volume kemacetan Kita tahu bagaimana parahnya kemacetan di Jakarta, saya tidak serta merta hanya menyalahkan/membully pemerintah dalam hal ini, entah karena apa alasannya. Dari wacana diatas bisa dijelaskan bahwa pertambahan jumlah kendaraan ialah sekitar 9% pertahun, berarti jika ada 100 orang tahun ini yang memiliki kendaraan, makan bisa dibayangkan tahun depan akan ada sekitar 109 kendaraan, dan tahun depannya lagi ada sekitar 120 kendaraan, ini hanya rasio per-100 orang, jika diubah perseratusribu, tak bisa dibayangkan ada berapa jumlahnya, akan seperti apa macetnya di kota seperti Jakarta. 4. Kebersamaan Kenapa saya memasukkan item ini? Dengan mau naik kendaraan umum, berarti kita menumbuhkan rasa kebersamaan dan sedikit menghilangkan rasa individualis/egois. Koq bisa? Iyalah, paling tidak kita mau mendengarkan celoteh orang-orang yang notabenenya masih dibawah kita, kita bisa merasakan bagaimana susahnya mereka mecari makan karena kita mendengarkan dan melihat, dibanding kita naik kendaraan pribadi dimana kita hanya melihat tanpa mendengar (kalo kata guru saya, yang dilihat hanya 30-40% yang masuk ke otak). Kenapa saya bilang hanya melihat? Karena bila kita naik motor, kita memakai helm dimana akan sulit mendengar, apalagi jika sedang macet berjam-jam, bukannya kasihan malah tambah sebal aja melihat orang lain disekitar kita. Apalagi mobil bro, kita hanya tinggal menempelkan tangan kita dijendela saja. Disini, pemerintah dan warga harusnya memiliki kesadaran dan solusi sendiri bagaimana mereka harusnya menyelesaikan masalah kemacetan ini. Jadi tak serta merta hanya pemerintah terus yang disalahkan. Misalnya untuk pemerintah: - mengurangi jumlah produksi kendaraan bermotor (apalagi yang sifatnya untuk pribadi) - menambah jumlah armada angkutan umum (dengan catatan aman dan nyaman, serta dengan sistem yang terintegrasi) - menyelesaikan proyek pembangunan MRT yang sekarang sedang dikerjakan Dan untuk kita, atau masyarakat: - mulai mengurangi jumlah konsumsi BBM - beralih menggunakan kendaraan umum atau teknologi non-BBM lain - sadar akan penyebab macetnya jalanan - (agak ekstrem) mempertimbangkan pindah ke kota lain

Tidak ada komentar:

Posting Komentar